Selasa, 01 Mei 2012

Epistemologi Pendidikan Islam


MEMBANGUN KEMBALI
EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
(Ulin Nuha, M.Ag.)

Pendidikan Islam pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan kesatuan kehidupan manusia dan masyarakat sebagai pelaksanaan dan realisasi fungsi khalifah dan ibadah, seperti yang termaktub dalam Al Quran yang digunakan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Namun, dengan adanya kecenderungan kehiduan modern, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memasuki seluruh ruang hidup manusia telah menggantikan fungsi manusia melalui berbagai produk iptek. Sehingga, dalam berbagai hal kehidupan mengakibatkan ketergantungan sistematik manusia terhadap iptek tersebut.
Pada sisi lain, searah dengan intervensi iptek terhadap seluruh fungsi kemanusiaan dan berbagai pola kelakuannya, berbagai fungsi dari institusi agama juga mengalami penyesatan. Pemikiran keagamaan (Islam) terjebak pada dilema “ideologi ilmiah”. Agama, tidak lagi memiliki bahasan untuk berbicara kepada kehidupan manusia yang seharunya memperoleh bimbingan. Akibatnya, jarak antara pemikiran Islam dan kehidupan manusia semakin hari semakin melebar.
Berangkat dari ilustrasi tersebut, sebenarnya pendidikan memiliki korelasi positif dengan proses modernisasi dalam kehidupan sosial manusia. Postulat semacam ini telah terbaca setidaknya oleh Ghulam Nabi Saqib, intelektual muslim Pakistan dalam disertasinya Modernism of Muslim Education pada University of London (1977) sebagaimana dikutip oleh Syarif Hidayatullah Saqib mengemukakan bahwa kaitannya antara pendidikan dan modernisasi sesungguhnya ada dua cara pandang yang dapat saling melengkapi. Pertama, bahwa pendidikan dianggap sebagai satu variabel dari apa yang disebut modernisasi, kedua, bahwa pendidikan adalah sistem yang menjadi obyek dari proses modernisasi tersebut (Syarif Hidayatullah, 1998 : 47).
Hal ini dapat dipahami, bahwa tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat manapun untuk mencapai kemajuan. Sebab, pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu ke arah modernisasi.
Kesadaran akan signifikansi pendidikan dalam arus modernisasi mendorong pada pakar pendidikan untuk senantiasa melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam sistem pendidikan. Dalam pendidikan Islam, misalnya ada istilah “pengembangan kurikulum Islami”, “Pembentukan pendidikan Islam terpadu”, “Islamisasi Ilmu”, dan sebagainya.
Upaya pembaharuan dalam pendidikan Islam tersebut, disebabkan karena adanya realitanya pendidikan masih terdapat krisis yang memuat untuk dilakukannya langkah-langkah penyelesaian, diantara krisis dalam pendidikan tersebut adalah krisis epistemologis (Azyumardi Azra, 1998 : 78-86).
Munculnya persoalan epistemologi pendidikan Islam itu diantara sebabnya adalah epistemologi Pendidikan Islam akibatnya belum jelas, bahkan kalau tidak terlalu berlebihan bahwa epistemologi Pendidikan Islam masih mengikuti epistemologi Barat. Perkembangan ilmu pendidikan Islam masih memiliki sikap mendua. Pertama, ketika melihat temuan teori pendidikan dari Barat maupun Timur, cenderung diterima tanpa kritik. Kemudian dicarikan dalil-dalil al Quran maupun Hadits yang terkadang cenderung dipindahkan. Kedua, sikap yang sangat normatif, dalam menghadapi dalil-dalil Al Quran maupun Hadits dan cenderung tidak melalui tahap analisis yang cukup mendalam.
Sekilas Tentang Epistemologi
Dalam artian bahasa, epistemologi beradal dari kata episteme yang berarti knowledge atau pengetahuan, dan logos yang berarti explanation. Epistemologi membicarakan tentang proses yang terlihat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan atau dengan perkataan lain theory of knowledge atau teori tentang pengetahuan.
Pengetahuan diartikan secara luas, mencakup segala hal yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu. Pengetahuan adalah terminologi generik yang mencakup segenap cabang pengetahuan yang kita miliki. Manusia mendapatkan pengetahuan tersebut berdasarkan kemampuan selaku makhluk yang berpikir, merasa dan mengindera. Di samping itu manusia bisa juga mendapatkan pengetahuan lewat intuisi dan wahyu dari Tuhan yang disampaikan lewat utusannya.
Dalam kajian filsafat, epistemologi merupakan suatu teori untuk pengetahuan tentang bagaimana cara menyusun pengetahuan yang benar. Epistemologi juga sebagai cabang filsafat yang menyelidiki tentang keaslian pengetrian, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Harun Nasution memandang bahwa epistemologi ialah ilmu yang membahas tentang apa itu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan (Haruan Nasution, 1973 : 7).
Di Perancis, istilah epistemologi untuk menunjukkan filsafat pengetahuan, dalam arti studi kritis tentang prinsip-prinsip, hipotes-hipotesa dan hasil-haisl berbagai ilmu dengan maksud menentukan nilai dan jangkauan obyektif. Sedangkan di Inggris, kata epistemologi (epistemology), juga berarti filsafat pengetahuan, yaitu suatu refleksi kritis tentang pengetahuan manusia pada umumnya.
Hal ini dipahami bahwa epistemologi meliputi berbagai sarana dan tata cara menggunakan sarana dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran. Epistemologi juga merupakan cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan lingkup pengetahuan, sumber, metode dan dasarnya. Menurut Amin Abdullah, epistemologi mempunyai tiga persoalan pokok yang menjadi wilayah kajiannya, yaitu,
pertama, apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dan dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahui. Kedua, apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar di luar pikiran kita dan kalau ada apakah kita dapat mengetahuinya? Ketiga, apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita dapat membedakan yang benar dari yang salah?” (Amin Abdullah, 1996 : 243).
Berpijak, dari pemahaman tentang epistemologi atau teori tentang pengetahuan tersebut, maka muncullah aliran dalam epistemologi. Pertama, idealisme atau rasionalisme yang menekankan pentingnya akal, ide, kategori, form, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Aliran ini dipelopori oleh Plato, Rene Descarted, George Berkeley, Spinoza dan Leibniz yang berpendapat bahwa manusia dengan ketrampilan proses berpikir saja dapat mengungkapkan prinsip-prinsip pokok dari alam atau lingkungan. Kedua, realisme atau empirisme yang lebih menekankan pada indera (sentuhan penglihatan, penciuman dan pendengaran), sebagai sumber sekaligus sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan, sehingga peran akal dinomorduakan. Aliran ini dipelopori oleh john Locke dan David Hume, yang berpandangan bahwa semua jenis pengetahuan hanya dapat diperoleh dari pengalaman melalui panca indera.
Pada perkembangan selanjutnya, kedua aliran yang saling bertentangan ini oleh Immanuel Kant “diselesaikan” dengan fahamnya “kritisme” yang menerima rasio dan pengalaman. Aliran ini menyatakan bahwa hasil rasio akan dibuktikan melalui pengalaman, sedangkan pengalaman akan dapat dimengerti karena adanya rasio atau akal. Selain itu, masih ada aliran lain yang merupakan induk dari epistemologi yaitu pisitivisme (August Comte) dan Fenomenologi (Husserl).
Epistemologi Barat mengedepankan rasionalitas  ilmiah sebagai satu-satunya metode yang sah untuk memahami dan mengontrol alam dan menolak semua pertimbangan nilai dalam pencarian pengetahuan. Epistemologi Barat memperlakukan obyek pencariannya (baik yang berwujud manusia maupun bukan manusia) sebagai benda semata yang dapat diperas, dimanipulasi, dibedah dan pada umumnya dihancurkan atas nama sains (Ziauddin Sardar, 1985 : 87).
Berkaitan dengan hal ini, seorang sarjana Barat yang lebih radikal sangat sadar akan masalah-masalah epistemologi Barat. Diantaranya sarjana Barat itu adalah Gregory Bateson, sebagaimana dikutip Ziauddin Sardar, mengungkapkan.
“Jelas kini bagi banyak orang telah lahir berbagai ancaman bencana yang muncul akibat kesalahan-kesalahan epistemologi Barat. Ini berkisar dari obat pembasmi serangga sampai polusi, jatuhan radioaktif dan kemungkinan melehnya lapisan es antrariksa…… Saya akui, ancaman besar yang dihadapi manusia dan sistem-sistem ekologi adalah akibat kesalahan-kesalahan dalam kebiasaan-kebiasaan pemikiran kita pada tingkat yang sangat mendalam tanpa sepenuhnya kita sadari”.
Syed Muhammad Al Naquib Al Attas memberikan analisa bahwa ilmu pengetahuan masa kini dan modern, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual dan persepsi psikologis dari kebudayaan dan peradaban Barat. Masuknya aspek-aspek yang berasal dari pandangan filsafat Barat ke dalam pikiran elit terdidik umat Islam sanat berperan terhadap timbulnya umat Islam” (Syed Muhammad al Naquib, 1979 : 10-11).
Formulasi Epistemologi Pendidikan Islam
Kalau landasan filosofis pendidikan Islam menggunakan filsafat Barat, maka pencapaian tujuan ideal pendidikan Islam tidak akan pernah terwujud. Sebab paradigma berpikir atau epistemologi Barat bertentangan dengan epistemologi Islam.
Pendidikan Islam bersumber dari al Quran dan Hadits, secara otomatis epistemologi yang dipakai adalah epistemologi Islam (bersumber dari al Quran dan Hadits). Sehingga, pendidikan Islam dalam prakteknya dilihat dari kerangka epistemologis bukan menggunakan pendekatan naturalistik-positivistik, yaitu jenis pendekatan keilmuan yang lebih menitikberatkan pada aspek keherensi (dari indikator, dapat terjawabnya berbagai pertanyaan pengetahuan agama) tanpa banyak menyentuh wilayah moralitas praktis. Atau menitikberatkan pada aspek korespondensi-tekstual yang lebih menekankan pada kemampuan untuk menghafal teks-teks keagamaan, yang menurut istilah Fazlur Rahman adalah memory-work dengan learning by note (Fazlul Rahman, 1979 : 191).
Dengan landasan epistemologi yang dibangun oleh para ilmuan-ilmuan muslim klasik, yang mendasarkan pengetahuannya melalui indera, akal dan intuisijuga mengakui kebenaran wahyu, itulah yang menjadi pondasi epistemologi pendidikan Islam. Sehingga, hasil yang akan dicapai adalah menjadikan anak didik sebagai manusia yang utuh dengan segala fungsinya, baik fisik maupun psikis. Hal ini, sesuai dengan hakekat pendidikan itu sendiri, yaitu suatu proses dengan “memanusiakan manusia”.
Dengan demikian peistemologi pendidikan Islam bukanlah bercorak naturalistic-positivistik, akan tetapi mempunyai corak rasionalistik-empiristik-sufistik, yang berarti bahwa pengakuan terhadap suatu ralitas kebenaran didasarkan pada indera, akal, intuisi dan wahyu. Dalam pendidikan Islam, terutama dalam konteks pendekatan konseptual metodologis, maka pendidikan Islam memerlukan sebuah paradigma yang mengedepankan keempat hal tersebut.
Pertama, fungsionalisasi inderawi, yaitu bagaimana dalam pendidikan Islam terdapat dorongan terhadap anak didik untuk senantiasa memfungsikan secara maksimal organ tubuh pemberian Tuhan, utamanya adanya panca indera tersebut dengan melakukan observasi dalam mencari kebenaran dalam proses pendidikan.
Tidak hanya dalam konteks transfer of knowledge saja, yang menekankan pada kemampuan untuk menghafal teks-teks keagamaan yang menurut Fazlur Rahman disebut sebagai memory-work dan learning bu note. Akan tetapi bagaimana mendidik anak menjadi manusia yang trampil dan kreatif serta profesional.
Kedua, fungsionalisasi akal, yaitu manusia sebagai makhluk Tuhan diciptakan dengan bentuk rupa yang sebaik-baiknya dan seindah-indahnya, kemudian dilengkapi dengan berbagai organ psikofisik yang istimewa seperti indera dan hati, dan kemampuan berpikir untuk memahami alam semesta dan diri sendiri yang disebut akal.
Akal, sebagai salah satu potensi yang penting dalam diri manusia mempunyai kedudukan dan peran yang sangat tinggi. Hal ini bukan hanya teori, tapi fungsi akal telah dibuktikan dalam sejarah pemikiran cendekiawan muslim zaman klasik.
Ron Landau mengatakan : “Dari orang Arablah Eropa belajar berpikir secara obyektif dan lurus, belajar berdada lapang dan berpandangan luas. Inilah dasar-dasar menjadi pembimbing bagi renaissance yang menimbulkan kemajuan peradaban Barat” (Harun Nasution, 1986 : 70).
Dalam proses pendidikan di lapangan, fungsionalisasi akal dengan mengajak anak didik selalu berpikir secara maksimal dalam memahami obyek, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, maka tujuan pendidikan Islam akan lebih mudah tercapai.
Ketiga, wahyu dan intuisi, fungsionalisasi akal dan pengalaman inderawi dalam mencapai tujuan pendidikan Islam, pada satu sisi memang akan menciptakan peradaban yang lebih maju, yang di dalamnya terdapat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penerapannya. Namun, pada sisi lain, memerlukan kontrol pula. Sebab dalam kenyataannya sains modern bisa juga mendatangkan mendatangkan berbagai persoalan.
Diantara dampak sains modern, khususnya dalam perspektif epistemologi yang muncul dari pola pikir manusia yang tercermin dalam perilakunya adalah adanya dominasi berpikir rasional dan empiris, yang merupakan pilar metode keilmuan (scientific method).
Hal ini berarti adanya pemisahan antara kebenaran rasio dan pengalaman inderawi tersebut dengan nilai-nilai yang bersumber dari intuisi, yang akhirnya terjadi proses sekularisasi yang menghancurkan keaungan dan kemuliaan manusia.
Paradigma pendidikan Islam seharusnya menempatkan nilai-nilai yang bersumber dari pengalaman spiritual tersebut, yang menghasilkan nilai-nilai moral-religius sebagai landasan dalam pendidikan Islam.
Sehingga tujuan pendidikan Islam yang meliputi ta’lim, tarbiyah dan ta’dib (Seyyed Hossein Nasr, 1994 : 98) diharapkan dapat tercapai, yaitu terbentuknya pribadi yang utuh dan mendukung pelaksanaan fungsinya sebagai khalifah fi al ard, dengan tidak melaksanakan praktik pendidikan Islam yang bebas nilai.
Berangkat dari epistemologi tersebut, maka paradigma pengembangan pendidikan Islam yang relevan dan perlu untuk mencermati adalah pertama, mengintegrasikan antara ilmu-ilmu yang dianggap sebagian orang adalah sekuler dan ilmu-ilmu agama dengan prinsip bahwa proses perolehan pengetahuan hakekatnya adalah untuk kebahagiaan dunia akherat. Bukan berorientasi kepada satu sisi saja yang mendatangkan kesesatan dan kesengsaraan. Dalam hal ini, ada keseimbangan antara ilmu naqli dan aqli (filsafat).
Kedua, mengusahakan untu kmeningkatkan kemampuan, dorongan dan kesempatan seluas-luasnya dalam rangka mendapatkan pendidikan. Sebab manusia diberi kemampuan oleh Allah berupa akal dan hati untuk membedakan dengan makhluk lain. Oleh karena itu, harus berusaha memperoleh kebenaran pengetahuan yang akan menjadikan dirinya benar-benar sebagai manusia. Ketiga, menerapkan nilai-nilaispiritual yang seimbang kepada anak dalam rangka balance terhadap seluruh potensi yang dimilikinya. Keempat, mendasarkan proses pendidikan kepada al Quran dan Hadits sebagai pedoman dan pijakan dalam pengembangan ilmu.
Kelima, mengusahakan peran pendidikan Islam ygmengembangkan moral atau akhlak peserta didik sebagai dasar pertimbangan dan pengendali tingkah laku dalam menghadapi norma sekuler. Keenam, mengusahakan sifat ambivalensi pendidikan Islam agar tidak timbul pandangan ygdikotomis, yakni pandangan yang memisahkan secara tajam antara tujuan ilmu dan agama, sementara ilmu meurpakan alat utama dalam menjangkau kebenaran yang menjadi tujuan agama. Wallahu a’lam


Penulis :
ULIN NUHA, M.Ag.
Alumni Pascasarjana
IAIN Walisongo Semarang





0 komentar :

Poskan Komentar