Rabu, 29 Agustus 2012

Tentang Manusia 2


MANUSIA

Quraish Shihab

Dalam bukunya, Man the  Unknown,  Dr.  A.  Carrel  menjelaskan tentang  kesukaran  yang  dihadapi  untuk  mengetahui  hakikat manusia.   Dia   mengatakan    bahwa    pengetahuan    tentang makhluk-makhluk  hidup secara umum dan manusia khususnya belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya. Selanj utnya ia menulis:
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof,    sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada   hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia –kepada diri mereka-- hingga kini masih tetap tanpa jawaban.
Keterbatasan   pengetahuan   manusia   tentang   dirinya   itu disebabkan oleh:
1. Pembahasan tentang masalah manusia terlambat dilakukan, karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang alam materi. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjata-senjata melawan binatang-binatang buas, penemuan api, pertanian, peternakan, dan sebagainya sehingga mereka tidak    mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka sebagai manusia. Demikian pula halnya Pada Zaman Kebangkitan (Renaisans) ketika para ahli digiurkan oleh penemuan-penemuan baru mereka yang disamping menghasilkan keuntungan material, juga menyenangkan publik secara umum karena penemuan-penemuan tersebut mempermudah dan memperindah kehidupan ini.
2. Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat aka1 kita seperti yang dinyatakan oleh Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup.
3. Multikompleksnya masalah manusia. Dari penjelasan di atas,  agamawan  dapat  berkomentar,  bahwa pengetahuan  tentang  manusia  demikian  itu disebabkan karena manusia  adalah  satu-satunya   makhluk   yang   dalam   unsur penciptaannya  terdapat  ruh Ilahi sedang manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit  (QS  Al-Isra'  [17]: 85).
 Jika  apa  yang  dikemukakan oleh A. Carrel itu diterima, maka satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik  siapa  manusia, adalah  merujuk  kepada wahyu Ilahi, agar kita dapat menemukan jawabannya.
Untuk maksud tersebut tentu tidak cukup dengan  hanya  merujuk kepada  satu  dua ayat, tetapi seharusnya merujuk kepada semua ayat  Al-Quran  (atau  paling  tidak  ayat-ayat  pokok)   yang berbicara  tentang  masalah  yang  dibahas, dengan mempelajari konteksnya masing-masing, dan mencari penguat-penguatnya  baik dari  penjelasan  Rasul,  maupun  hakikat-hakikat  ilmiah yang telah mapan. Cara ini dikenal  dalam  disiplin  ilmu  Al-Quran dengan metode maudhu'i (tematis).

Istilah Manusia dalam Al-Quran
 Ada  tiga  kata  yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada manusia.
  l. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin, semacam insan, ins, nas, atau unas.
2. Menggunakan kata basyar.
3. Menggunakan kata Bani Adam, dan zuriyat Adam.
 Uraian ini akan mengarahkan  pandangan  secara  khusus  kepada kata basyar dan kata insan.
Kata  basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata  yang sama  lahir  kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan  kulit binatang yang lain.
Al-Quran  menggunakan  kata  ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk manusia  dari  sudut  lahiriahnya  serta  persamaannya  dengan manusia   seluruhnya.   Karena   itu   Nabi   Muhammad    Saw. diperintahkan untuk menyampaikan bahwa,
Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi  wahyu (QS Al-Kahf [18]: 110).
 Dari sisi lain diamati bahwa banyak  ayat-ayat  Al-Quran  yang menggunakan  kata  basyar  yang  mengisyaratkan  bahwa  proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap  sehingga mencapai tahap kedewasaan.
     Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya (Allah) menciptakan kamu dari tanah, kemudian ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran (QS Al-Rum [30]: 20).
Bertebaran  di  sini  bisa  diartikan  berkembang  biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki.  Kedua  hal  ini tidak  dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab. Karena  itu  pula  Maryam  a.s. mengungkapkan  keheranannya dapat memperoleh anak, padahal dia belum pernah disentuh oleh basyar (manusia dewasa  yang  mampu berhubungan  seks)  (QS Ali 'Imran [3]: 47). Kata basyiruhunna yang digunakan oleh Al-Quran sebanyak dua kali (QS  Al-Baqarah [2]: 187), juga diartikan dengan hubungan seks.
Demikian  terlihat  basyar  dikaitkan  dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu  memikul  tanggung jawab.  Dan  karena  itu  pula,  tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar {perhatikan QS Al-Hijr 115): 28 yang menggunakan kata  basyar), dan QS Al-Baqarah (2): 30 yang menggunakan kata khalifah, yang keduanya mengandung  pemberitaan  Allah  kepada malaikat tentang manusia.
Kata  insan  terambil  dari  akar kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Pendapat ini, jika ditinjau  dari  sudut pandang  Al-Quran  lebih  tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil   dan   kata   nasiya   (lupa),   atau    nasa-yanusu (berguncang).
Kitab  Suci  Al-Quran  --seperti  tulis  Bint Al-Syathi' dalam Al-Quran wa Qadhaya Al-Insan-- seringkali memperhadapkan insan dengan  jin/jan.  Jin  adalah makhluk halus yang tidak tampak, sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah.
Kata insan, digunakan Al-Quran untuk menunjuk  kepada  manusia dengan  seluruh  totalitasnya,  jiwa  dan  raga.  Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang  lain,  akibat  perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.

Produksi dan Reproduksi Manusia
 Al-Quran menguraikan produksi dan reproduksi  manusia.  Ketika berbicara   tentang   penciptaan   manusia  pertama,  Al-Quran menunjuk kepada sang  Pencipta  dengan  menggunakan  pengganti nama berbentuk tunggal:
 Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dan tanah (QS Shad [38]: 71).
 Apa yang menghalangi kamu (iblis) sujud kepada apa yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? (0S Shad [38]: 75).
 Tetapi ketika  berbicara  tentang  reproduksi  manusia  secara umum,  Yang  Maha  Pencipta ditunjuk dengan menggunakan bentuk jamak. Demikian kesimpulan kita  kalau  membaca  surat  At-Tin ayat 4:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
 Ha1 itu untuk menunjukkan perbedaan  proses  kejadian  manusia secara  umum  dan proses kejadian Adam a.s. Penciptaan manusia secara  umum,  melalui  proses  keterlibatan   Tuhan   bersama selain-Nya,  yaitu  ibu  dan bapak. Keterlibatan ibu dan bapak mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik  dan  psikis  anak, sedangkan  dalam  penciptaan Adam, tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak.
Al-Quran tidak menguraikan secara rinci proses kejadian  Adam, yang  oleh  mayoritas  ulama  dinamai  manusia  pertama.  Yang disampaikannya dalam konteks ini hanya:
  a. Bahan awal manusia adalah tanah.
  b. Bahan tersebut disempurnakan.    
  c. Setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan  kepadanya ruh Ilahi (QS Al-Hijr [15]: 28-29; Shad [38]: 71-72).

Apa dan bagaimana penyempurnaan  itu,  tidak  disinggung  oleh Al-Quran.  Dari  sini,  terdapat sekian banyak cendekiawan dan ulama Islam, jauh sebelum Darwin yang  melakukan  penyelidikan dan  analisis  sehingga berkesimpulan bahwa manusia diciptakan melalui  fase   atau   evolusi   tertentu,   dan   bahwa   ada tingkat-tingkat  tertentu  menyangkut ciptaan Allah. Nama-nama seperti Al-Farabi (783-950 M), Ibnu Miskawaih (Wafat 1030  M), Muhammad  bin  Syakir  Al-Kutubi  (1287- 1363 M), Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dapat disebut sebagai tokoh-tokoh paham  evolusi sebelum  lahirnya  teori  evolusi  Darwin (1804-1872 M). Perlu ditambahkan  bahwa  kesimpulan  ulama-ulama   tersebut   tidak sepenuhnya  sama  dalam  rincian teori evolusi yang dirumuskan oleh Darwin.
Dari sini pula dapat dimengerti  uraian  pakar  tafsir  Syaikh Muhammad  Abduh  yang menyatakan bahwa seandainya teori Darwin tentang   proses   penciptaan   manusia    dapat    dibuktikan kebenarannya   secara  ilmiah,  maka  tidak  ada  alasan  dari Al-Quran untuk menolaknya. Al-Quran hanya  menguraikan  proses pertama,  pertengahan,  dan  akhir.  Apa  yang  terjadi antara proses pertama dan pertengahan, serta antara  pertengahan  dan akhir, tidak dijelaskannya
Abbas  Al-Aqad,  seorang  ilmuwan dan ulama Mesir kontemporer, dalam bukunya Al-Insan fi Al-Quran  (Manusia  dalam  Al-Quran) mempersilakan  setiap  Muslim,  untuk  --menerima atau menolak teori itu-- berdasarkan penelitian  ilmiah,  tanpa  melibatkan Al-Quran  sedikit  pun, karena Al-Quran tidak berbicara secara rinci tentang proses kejadian manusia pertama.

Potensi Manusia
 Yang banyak dibicarakan oleh Al-Quran tentang  manusia  adalah sifat-sifat  dan  potensinya.  Dalam hal ini, ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan  manusia,  seperti  pernyataan tentang  terciptanya  manusia  dalam  bentuk  dan keadaan yang sebaik-baiknya (QS Al-Tin  [95]:  5),  dan  penegasan  tentang dimuliakannya   makhluk   ini   dibanding   dengan  kebanyakan makhluk-makhluk Allah yang lain (QS Al-Isra' [17]: 70) Tetapi, di  samping  itu  sering  pula  manusia  mendapat celaan Tuhan karena ia amat aniaya dan mengingkari nikmat (QS Ibrahlm [14]: 34),  sangat  banyak  membantah  (QS  Al-Kahf  [18]:  54), dan bersifat keluh kesah lagi kikir (QS Al-Ma'arij [70]: l9),  dan masih banyak lagi lainnya.
Ini  bukan  berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu dengan lainnya, akan  tetapi  ayat-ayat  tersebut  menunjukkan beberapa  kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Disamping menunjukkan bahwa makhluk ini  mempunyai  potensi  (kesediaan) untuk  menempati  tempat  tertinggi  sehingga ia terpuji, atau berada di tempat yang rendah sehingga ia tercela.
Seperti  dikemukakan  di  atas,  Al-Quran  menjelaskan   bahwa manusia diciptakan dari tanah dan setelah sempurna kejadiannya dihembuskanlah kepadanya Ruh Ilahi (QS Shad [38]: 71-72) .
Dari sini jelas bahwa manusia  merupakan  kesatuan  dua  unsur pokok, yang tidak dapat dipisahkan karena bila dipisahkan maka ia bukan manusia lagi. Sebagaimana halnya air  yang  merupakan perpaduan   antara  oksigen  dan  hidrogen  dalam  kadar-kadar tertentu. Bila kadar oksigen dan hidrogennya dipisahkan,  maka ia tidak akan menjadi air lagi.
Potensi  manusia  dijelaskan oleh Al-Quran antara lain melalui kisah Adam dan Hawa (QS Al-Baqarah [2]: 30-39).
Dalam ayat itu dijelaskan bahwa sebelum kejadian  Adam,  Allah telah   merencanakan   agar  manusia  memikul  tanggung  jawab kekhalifahan di bumi. Untuk maksud tersebut di  samping  tanah (jasmani)  dan  Ruh  Ilahi  (akal  dan  ruhani),  makhluk  ini dianugerahi pula:
a. Potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda-benda alam. Dari  sini  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa  manusia  adalah makhluk   yang   berkemampuan  untuk  menyusun  konsep-konsep, mencipta,  mengembangkan,  dan  mengemukakan  gagasan,   serta melaksanakannya.  Potensi  ini adalah bukti yang membungkamkan malaikat, yang tadinya merasa wajar untuk  dijadikan  khalifah di bumi, dan karenanya mereka bersedia sujud kepada Adam.
b. pengalaman hidup di surga, baik yang berkaitan dengan kecukupan dan kenikmatannya, maupun rayuan Iblis dan akibat buruknya.Pengalaman di  surga  adalah  arah  yang  harus  dituju  dalam membangun  dunia  ini,  kecukupan  sandang, pangan, dan papan, serta rasa aman terpenuhi (QS Thaha [20]: 116-ll9),  sekaligus arah  terakhir  bagi  kehidupannya di akhirat kelak. Sedangkan godaan Iblis, dengan akibat  yang  sangat  fatal  itu,  adalah pengalaman yang amat berharga dalam menghadapi rayuan Iblis di dunia, sekaligus peringatan bahwa jangankan yang belum  masuk, yang  sudah  masuk ke surga pun, bila mengikuti rayuannya akan terusir.
c.  Petunjuk-petunjuk keagamaan. Masih banyak ayat-ayat lain  yang  dapat  dikemukakan  tentang sifat dan potensi manusia serta arah yang harus ia tuju. Dari  kitab  suci Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. Diperoleh informasi  serta  isyarat-isyarat  yang   boleh   jadi   dapat mengungkap  sebagian  misteri  makhluk  ini.  Namun  demikian, pemahaman atau informasi  dan  isyarat  tersebut  tidak  dapat dilepaskan  dari  subjektivitas  manusia,  sehingga  ia  tetap mengandung kemungkinan benar atau salah, seperti  halnya  yang dikemukakan oleh tulisan ini.
 Secara  tegas  Al-Quran  mengemukakan  bahwa  manusia  pertama diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi melalui proses yang  tidak dijelaskan  rinciannya, sedangkan reproduksi manusia, walaupun dikemukakan tahapan-tahapannya, namun tahapan  tersebut  lebih banyak berkaitan dengan unsur tanahnya.
Isyarat  yang  menyangkut  unsur  immaterial, ditemukan antara lain dalam uraian tentang sifat-sifat manusia, dan dari uraian tentang  fithrah,  nafs,  qalb, dan ruh yang menghiasi makhluk   manusia.  Berikut  dicoba   untuk   memahami   istilah-istilah tersebut.

Fithrah
 Dari  segi  bahasa,  kata  fithrah  terambil  dari  akar  kata al-fathr  yang  berarti  belahan,  dan  dari  makna  ini lahir makna-makna lain antara lain "penciptaan" atau "kejadian".
Konon sahabat Nabi, Ibnu Abbas tidak tahu  persis  makna  kata fathir pada ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan langit dan bumi sampai ia mendengar pertengkaran  tentan  kepemilikan satu  sumur.  Salah  seorang  berkata, "Ana fathar tuhu". Ibnu Abbas memahami kalimat ini dalam arti, "Saya  yang  membuatnya pertama  kali."  Dan  dari situ Ibnu Abbas memahami bahwa kata ini digunakan untuk penciptaan atau kejadian sejak awal. Fithrah manusia adalah kejadiannya sejak  semula  atau  bawaan sejak lahirnya.
Dalam  Al-Quran  kata  ini  dalam  berbagai bentuknya terulang sebanyak dua puluh delapan kali, empat belas diantaranya dalam  konteks  uraian  tentang  bumi  dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan manusia  baik  dari  sisi  pengakuan  bahwa penciptanya  adalah  Allah,  maupun  dari  segi uraian tentang fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu  pada surat Al-Rum ayat 30:
Maka  hadapkanlah wajahmu kepada agama, (pilihan) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia  atas  fitrah  itu.  Tidak  ada perubahan  pada  fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Merujuk kepada fitrah yang dikemukakan di atas, dapat  ditarik kesimpulan  bahwa  manusia  sejak  asal  kejadiannya,  membawa potensi beragama yang lurus,  dan  dipahami  oleh  para  ulama sebagai tauhid.
Selanjutnya  dipahami  juga,  bahwa  fitrah  adalah bagian dan khalq (penciptaan) Allah.
Kalau kita memahami kata la  pada  ayat  tersebut  dalam  arti "tidak",   maka   ini  berarti  bahwa  seseorang  tidak  dapat menghindar dari fitrah itu. Dalam konteks ayat ini, ia berarti bahwa  fitrah  keagamaan  akan melekat pada diri manusia untuk selama  lamanya,  walaupun  boleh  jadi  tidak   diakui   atau diabaikannya.
Tetapi  apakah  fitrah  manusia  hanya  terbatas  pada  fitrah keagamaan? Jelas tidak. Bukan saja  karena  redaksi  ayat  ini tidak  dalam  bentuk  pembatasan  tetapi juga karena masih ada ayat-ayat lain yang membicarakan  tentang  penciptann  potensi manusia  --walaupun  tidak  menggunakan  kata  fitrah, seperti misalnya:
Telah dihiaskan kepada manusia kecenderungan hati kepada perempuan (atau lelaki), anak lelaki (dari perempuan), serta harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang     (QS Ali 'Imran [3]: 14).
Karena itu agaknya tepat kesimpulan Muhammad bin  Asyur  dalam tafsirnya  tentang  surat  Al-Rum  (30):  30,  yang menyatakan bahwa:
Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta ruhnya).
Manusia berjalan dengan  kakinya  adalah  fitrah  jasadiahnya, sementara  menarik  kesimpulan  melalui  premis-premis  adalah fitrah  akliahnya.  Senang  menerima  nikmat  dan  sedih  bila ditimpa musibah juga adalah fitrahnya.

Nafs
 Kata   nafs  dalam  Al-Quran  mempunyai  aneka  makna,  sekali diartikan  sebagai  totalitas  manusia,  seperti  antara  lain maksud  surat  Al-Maidah  ayat  32,  di  kali lain ia menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang  menghasilkan tingkah laku seperti maksud kandungan firman Allah.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satumasyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri mereka (QS Al-Ra'd [13]: 11)
Kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada  "diri  Tuhaan" (kalau  istilah  ini dapat diterima), seperti dalam firman-Nya dalam surat Al-An'am {6): 19:
      Allah mewajibkan atas diri-Nya menganugerahkan rahmat.
 Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa   nafs   dalam   konteks pembicaraan   tentang  manusia,  menunjuk  kepada  sisi  dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk.
Dalam pandangan Al-Quran, nafs diciptakan Allah dalam  keadaan sempurna  untuk  berfungsi  menampung  serta mendorong manusia berbuat kebaikan dar1 keburukan, dan  karena  itu  sisi  dalam manusia  inilah  yang  oleh  Al-Quran  dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar.
Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwann (QS Al-Syams [91]: 7-8).
 Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan.
Di sini antara lain terlihat  perbedaan  pengertian  kata  ini menurut  Al-Quran  dengan  terminologi  kaum  sufi,  yang oleh Al-Qusyairi dalam risalahnya  dinyatakan  bahwa,  "Nafs  dalam pengertian  kaum  sufi  adalah  sesuatu  yang melahirkan sifat tercela dan perilaku buruk." Pengertian  kaum  sufi  ini  sama dengan  penjelasan  Kamus  Besar Bahasa Indonesia, yang antara lain, menjelaskan arti kata nafsu, sebagai "dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik".
Walaupun Al-Quran menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun diperoleh pula isyarat  bahwa  pada  hakikatnya potensi  positif  manusia  lebih kuat dari potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih  kuat  dari  daya  tarik kebaikan. Karena itu manusia dituntut agar memelihara kesucian nafs, dan tidak mengotorinya,
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikannya dan merugilah orang-orang yang  mengotorinya (QS Al-Syams [91]: 9-10)
Bahwa kecenderungannya kepada  kebaikan  lebih  kuat  dipahami dari isyarat beberapa ayat, antara lain firman-Nya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Nafs memperoleh ganjaran dan apa yang diusahakannya, dan memperoleh siksa dari apa yang diusahakannya (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Kata kasabat yang dalam ayat di  atas  menunjuk  kepada  usaha baik   sehingga   memperoleh   ganjaran,  adalah  patron  yang digunakan  bahasa  Arab  untuk  menggambarkan  pekerjaan  yang dilakukan dengan mudah, sedangkan iktasabat adalah patron yang digunakan untuk menunjuk kepada hal-hal yang sulit lagi berat. Ini  --menurut  pakar Al-Quran Muhammad Abduh—mengisyaratkan bahwa nafs pada hakikatnya lebih mudah melakukan hal-hal  yang baik   daripada   melakukan  kejahatan,  dan  pada  gilirannya mengisyaratkan bahwa manusia pada  dasarnya  diciptakan  Allah untuk melakukan kebaikan.
Ayat   lain  yang  sejalan  dengan  isyarat  di  atas,  adalah firman-Nya

Wahai manusia! Apa yang memperdayakanmu (berbuat dosa) terhadap Tuhanmu yang telah menciptakan engkau,  menyempurnakan kejadianmu, dan menjadikan engkau "adil" (seimbang atau cenderung kepada keadilan) (QS Al-Infithar [82): 6-7).
 Kata "menjadikan engkau adil" dipahami  oleh  sementara  pakar seperti Yusuf Ali sebagai kecenderungan berbuat adil. Pendapat ini cukup beralasan,  karena  dengan  pemahaman  semacam  itu, menjadi   amat  lurus  kecaman  Allah  terhadap  manusia  yang mendurhakainya.
Al-Quran  juga  mengisyaratkan   keanekaragaman   nafs   serta peringkat-peringkatnya,  secara  eksplisit  disebutkan tentang an-nafs al-lawamah, ammarah, dan muthmainnah.
Di sisi lain  ditemukan  pula  isyarat  bahwa  nafs  merupakan wadah.Firman  Allah  dalam surat Al-Ra'd (13): 11 yang dikutip di atas, mengisyaratkan  bahwa  nafs  menampung  paling  tidak gagasan dan  kemauan.  Suatu kaum tidak dapat berubah  keadaan lahiriahnya, sebelum mereka mengubah lebih dulu apa  yang  ada dalam  wadah  nafs-nya.  Yang  ada  di sini antara lain adalah gagasan dan kemauan atau tekad  untuk  berubah.  Gagasan  yang benar,  yang disertai dengan kemauan satu kelompok masyarakat, dapat mengubah keadaan masyarakat  itu.  Tetapi  gagasan  saja tanpa  kemauan,  atau  kemauan  saja  tanpa gagasan tidak akan menghasilkan perubahan.
Yang terdapat dalam wadah nafs bukan hanya gagasan dan kemauan yang disadari manusia, tetapi juga menampung sekian banyak hal lainnya, bahkan boleh jadi ada hal-hal yang sudah hilang  dari ingatan pemiliknya.
Al-Quran mengisyaratkan hal tersebut,
Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguh nya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (QS Thaha [20]: 7).
 Yang lebih tersembunyi dan rahasia adalah yang terdapat  dalam "bawah sadar manusia", sedangkan yang tersembunyi adalah "yang disadari manusia namun dirahasiakannya."
Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
Tidak seorangpun menyembunyikan sesuatu kecuali tampak pada salah ucapnya atau air mukanya.
Apa yang ada dalam nafs dapat juga muncul  dalam  mimpi,  yang oleh  Al-Quran  pada  garis  besarnya  dibagi dalam dua bagian pokok.  Pertamaa  dinamainya  ru'ya   dan   kedua   dinamainya adhghatsu  ahlam.  Yang pertama dipahami sebagai gambaran atau simbol dari peristiwa yang telah, sedang, atau  akan  dialami, dan   yang   belum  atau  tidak  terlintas  dalam  benak  yang memimpikannya. Yang kedua lahir dan keresahan  atau  perhatian manusia  terhadap  sesuatu  dan  hal-hal  yang telah berada di bawah sadarnya.
Dalam wadah nafs terdapat qalb.

Qalb
Kata qalb terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  membalik karena  seringkali  ia  berbolak-balik,  sekali  senang sekali susah, sekali setuju dan sekali menolak. qa1b amat  berpotensi untuk  tidak  konsisten.  Al-Quran pun menggambarkan demikian, ada yang baik, ada pula sebaliknya. Berikut beberapa contoh.
  a. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki kalbu, atau  yang mencurahkan pendengaran lagi menjadi saksi (QS Qaf [50]: 37)    
  b. Kami jadikan dalam kalbu orang-orang yang mengikuti (Isa a.s ) kasih sagang dan rahmat (QS Al-Hadid [57]: 27).    
  c. Kami akan mencampakkan ke dalam hati orang-orang  kafir rasa takut (QS Ali 'Imran [3]: 151).    
  d. Dia (Allah) menjadikan kamu cinta kepada keimanan,  dan menghiasinya indah dalam kalbumu (QS Al-Hujurat [49]: 7).
Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa kalbu adalah wadah  dari pengajaran,  kasih sayang, takut, dan keimanan. Dari isi kalbu yang  dijelaskan  oleh  ayat-ayat  di  atas   (demikian   juga ayat-ayat  lainnya),  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa  kalbu memang menampung hal-hal yang disadari  oleh  pemiliknya.  Ini merupakan salah satu perbedaan antara kalbu dan nafs. Bukankah seperti yang dinyatakan sebelumnya bahwa  nafs  menampung  apa yang  berada  di  bawah  sadar,  dan  atau  sesuatu yang tidak diingat lagi?
Dari  sini  dapat  dipahami  mengapa   yang   dituntut   untuk dipertanggungiawabkan hanya isi kalbu bukan isi nafs,
Allah menuntut tanggungjawab kau menyangkut apa yang  dilakukan oleh kalbu kamu (95 Al-Baqarah [2]: 225).
Namun dinyatakan bahwa,
Allah lebih mengetahui (dari kamu sendiri) apa yang terdapat dalam nafs (diri kamu) (QS Al-Isra' [17]: 25)
 Di sisi lain seperti dikemukakan di atas,  bahwa  nafs  adalah "sisi  dalam"  manusia,  kalbu  pun demikian, hanya saja kalbu berada dalam satu kotak tersendiri  yang  berada  dalam  kotak besar nafs.
Dalam keadaannya sebagai kotak, maka tentu saja ia dapat diisi dan atau diambil isinya, seperti  yang  digambarkan  ayat-ayat berikut ini:
Kami cabut apa yang terdapat dalam kalbu mereka rasa iri, sehingga mereka semua merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan (QS Al-Hijr [15]: 47)
Belum lagi masuk keimanan ke dalam kalbu kamu (QS  Al-Hujurat [49]: 14).
 Bahkan Al-Quran menggambarkan bahwa ada  kalbu  yang  disegel: Allah telah mengunci mati kalbu mereka (QS Al-Baqarah [2]: 7), sehingga wajar jika Al-Quran menyatakan bahwa ada  kunci-kunci penutup   kalbu  (QS  Muhammad  [47]:24).  Wadah  kalbu  dapat diperbesar, diperkecil, atau dipersempit. Ia diperlebar dengan amal-amal  kebajikan  serta  olah  jiwa.  Al-Quran mengatakan, "mereka itulah yang diperluas kalbunya untuk menampung  takwa" (QS  Al-Hujurat  [49]:  3).  Bukankah  kami  telah  memperluas dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1). Dan siapa yang  dikehendaki Allah kesesatannya, Dia menjadikan dada (kalbu)nya sempit lagi sesak (QS Al-An'am [6]: 125).
Perlu ditambahkan bahwa Al-Quran --sesuai dengan kaidah bahasa Arab--   seringkali  menggunakan  bagian  dari  sesuatu  untuk menunjuk  keseluruhan  bagian-bagiannya,  seperti  menggunakan kata sujud dalam arti shalat yang mencakup berdiri, rukuk, dan lain-lain.  Al-Quran  juga   biasa   menyebut   sesuatu   yang menggambarkan  keseluruhan bagian-bagian, tetapi yang dimaksud hanyalah  salah  satu  bagiannya  seperti  firman-Nya  "mereka memasukkan   jari-jari   mereka   ke   dalam  telinganya"  (QS Al-Baqarah [2]:  19)  dalam  arti  ujung  jari-jari.  Al-Quran terkadang  menggunakan  kata nafs dalam arti kalbu. Biasa juga menyebut tempat sesuatu tetapi yang  dimaksud  adalah  isinya, seperti  "tanyakanlah  kampung"  (QS  Yusuf  [12]:  82),  yang dimaksud adalah penghuninya, demikian seterusnya.
Kata dada dalam ayat di atas adalah tempat kalbu sebagai  mana ditegaskan
Sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi kalbu yang berada di dalam dada (QS Al-Hajj [22]: 46).
Dalam beberapa ayat,  kata  qalb  yang  merupakan  wadah  itu, dipahami  dalam  arti  "alat" seperti dalam firman-Nya: Mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak  dõgunakan  untuk  memahami  (QS Al-A'raf [7]: 179). Kalbu sebagai alat, dilukiskan pula dengan fu'ad (seperti dalam firman-Nya: Allah mengeluarkan  kamu  dan perut  ibumu  da1am keadaan tidak mengetahui sesuatu. Maka Dia memberikanmu (alat-alat) pendengaran, (alat-alat) penglihatan, serta  (banyak) hati agar kamu bersyukur (menggunakannya untuk memperoleh pengetahuan) (QS Al-Nahl [16]: 78) .
Membersihkan kalbu, adalah salah satu  cara  untuk  memperoleh pengetahuan.  Imam  Al-Ghazali  memberi  contoh mengenai kalbu sebagai wadah pengetahuan, serta cara mengisinya. "Kalau  kita membayangkan  satu  kolam  yang  digali  di  tanah, maka untuk mengisinya  dapat  dilakukan  dengan  mengalirkan  air  sungai --dari  atas--  ke  dalam  kolam  itu. Tetapi bisa juga dengan menggali dan menyisihkan tanah yang menutupi  mata  air.  Jika itu dilakukan, maka air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu, jauh lebih jernih dari air sungai yang  mengalir  dari  atas.  Kolam  adalah  kalbu,  air adalah pengetahuan, sungai adalah pancaindera dan eksperimen.  Sungai (pancaindera)  dapat dibendung atau ditutup, selama tanah yang berada di kolam (kalbu)  dibersihkan  agar  air  (pengetahuan) dari mata air memancar ke atas (kolam). Al-Quran  juga  menegaskan  bahwa  Allah Swt. dapat mendinding manusia dengan kalbunya.
Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya (0S Al-Anfal [8]: 24).
Salah satu makna ayat ini adalah bahwa Allah  menguasai  kalbu manusia,   sehingga   mereka  yang  merasakan  kegundahan  dan kesulitan  dapat  bermohon  kepada-Nya   untuk   menghilangkan kerisauan dan penyakit kalbu yang dideritanya. Ayat ini sangat berkaitan dengan firman-Nya dalam Al-Ra'd (13): 28:
     Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati akan  tenteram.
Demikian sekelumit  dari  pengertian  dan  peranan  hati  yang diperoleh dari isyarat-isyarat Al-Quran.

Ruh
Berbicara  tentang  ruh,  Al-Quran  mengingatkan   kita   akan firman-Nya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, "Ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu  kecuali sedikit" (QS Al-Isra' [17]: 85)
 Apa yang dimaksud  dengan  pertanyaan  tentang  ruh  di  sini? Apakah  substansinya?  Kekekalan atau kefanaannya, kebahagiaan atau  kesengsaraannya?  Tidak  jelas.  Selain  itu,  apa  yang dimaksud dengan "kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit"? Yang sedikit itu apa? Apakah yang berkaitan  dengan  ruh?  Sehingga ada  informasi sedikit tentang ruh, misalnya gejala-gejalanya? Ataukah "yang sedikit itu" adalah ilmu pengetahuan kita, tidak termasuk di dalamnya ruh, karena ilmu kita hanya sedikit.
Yang   menambah  sulitnya  persoalan  adalah  bahwa  kata  ruh terulang di dalam  Al-Quran  sebanyak  dua  puluh  empat  kali dengan  berbagai  konteks  dan berbagai makna, dan tidak semua berkaitan  dengan  manusia.  Dalam  surat  Al-Qadar   misalnya dibicarakan  tentang  turunnya  malaikat  dan  ruh  pada malam Lailat Al-Qadr. Ada  juga  uraian  tentang  ruh  yang  membawa Al-Quran.
Kata ruh yang dikaitkan dengan manusia juga dalam konteks yang bermacam-macam, ada  yang  hanya  dianugerahkan  Allah  kepada manusia pilihan-Nya (QS Al-Mu'min [40]: 15) yang dipahami oleh sementara pakar sebagai wahyu yang dibawa malaikat Jibril, ada juga  yang  dianugerahkannya  kepada  orang-orang  Mukmin  (QS Al-Mujadilah [58]: 22) dan di sini dipahami  sebagai  dukungan dan  peneguhan  hati  atau  kekuatan  batin; dan ada juga yang dianugerahkannya kepada seluruh manusia,
Kemudian Kuhembuskan kepadanya dan ruh-Ku.
 Apakah  di  sini  dia  berarti  nyawa?  Ada  yang  berpendapat demikian,  ada  juga  yang  menolak pendapat ini, karena dalam Surat Al-Mu'minun dijelaskan  bahwa  dengan  ditiupkannya  ruh maka  menjadilah  makhluk ini khalq akhar (makhluk yang unik), yang berbeda dari makhluk lain. Sedangkan nyawa juga  dimiliki oleh  orang  utan,  misalnya. Kalau demikian nyawa bukan unsur yang menjadikan manusia makhluk yang unik.
Demikian terlihat Al-Quran berbicara tentang ruh  dalam  makna yang  beraneka  ragam, sehingga sungguh sulit untuk menetapkan maknanya apalagi berbicara tentang substansinya.
Dalam beberapa hadis, ada  disinggung  tentang  ruh,  misalnya sabda Nabi Saw.,
Ruh-ruh adalah himpunan yang terorganisasi, yang saling mengenal akan bergabung, dan yang tidak saling  mengenal akan berselisih.
Hadis di atas seringkali  dirangkaikan  dengan  ungkapan  yang dikenal luas dalam literatur keagamaan:
Burung-burung akan bergabung dengan jenisnya.
Hadis ini, sekali lagi tidak membicarakan apa yang disebut ruh tersebut?  Dia hanya mengisyaratkan tentang keanekaragamannya, dan bahwa manusia mempunyai kecenderungan  yang  berbeda-beda, dan setiap pemilik kecenderungan jiwanya akan bergabung dengan sesamanya.
Demikian kembali kita bertanya, "Apa  ruh  itu  dan  bagaimana ia?" Penulis lebih tenang dan mantap menjawab,
Katakanlah, "Ruh adalah urusan Tuhan-Ku." Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.

'Aql
 Kata 'aql (akal) tidak  ditemukan  dalam  Al-Quran,  yang  ada adalah  bentuk  kata  kerja  --masa  kini,  dan  lampau.  Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali  pengikat, penghalang.   Al-Quran   menggunakannya   bagi  "sesuatu  yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau  dosa." Apakah sesuatu itu? Al-Quran tidak menjelaskannya secara  eksplisit,   namun   dari   konteks   ayat-ayat   yang menggunakan akar kata 'aql dapat dipahami bahwa ia antara lain adalah:
 a. Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu,  seperti firman-Nya dalam QS Al-'Ankabut (29): 43.
Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami  berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang alim (berpengetahuan)  (QS Al-'Ankabut [29]: 43)
Daya manusia dalam  hal  ini  berbeda-beda.  Ini  diisyaratkan Al-Quran  antara  lain  dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam  dan  siang, dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan Allah Swt. bagi  "orang-orang  berakal"  (QS  Al-Baqarah  [2]: 164),  dan  ada  juga  bagi  Ulil Albab yang juga dengan makna sama, tetapi mengandung pengertian lebih  tajam  dari  sekadar memiliki pengetahuan.
Keanekaragaman   akal   dalam   konteks   menarik   makna  dan menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan  istilah-istilah semacam  nazhara,  tafakkur,  tadabbur,  dan  sebagainya  yang semuanya mengandung  makna  mengantar  kepada  pengertian  dan kemampuan pemahaman.
 b. Dorongan moral, seperti firman-Nya,
... dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi, dan jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah dengan sebab yang benar. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu memiliki dorongan moral untuk  meninggalkannya (QS Al-'Anam [6]: 151).
 c. Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta "hikmah"
Untuk maksud ini  biasanya  digunakan  kata  rusyd.  Daya  ini menggabungkan  kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan, serta  dorongan moral yang disertai dengan kematangan berpikir. Seseorang yang memiliki dorongan moral, boleh jadi tidak memiliki daya  nalar yang  kuat,  dan  boleh jadi juga seseorang yang memiliki daya pikir  yang  kuat,  tidak  memiliki  dorongan  moral,   tetapi seseorang  yang  memiliki  rusyd, maka dia telah menggabungkan kedua  keistimewaan  tersebut.  Dari  sini  dapat   dimengerti mengapa penghuni neraka di hari kemudian berkata,
Seandainya kami mendengar dan berakal maka pasti kami tidak termasuk penghuni neraka (QS Al-Mulk [67]: l0)
Demikian sekilas tentang pengertian kata-kata yang boleh  jadi dapat  menggambarkan  sekilas  tentang manusia dalam pandangan Al-Quran. Penulis sepenuhnya sadar bahwa uraian di  atas  amat terbatas.  Uraian  yang memadai mungkin dapat diperoleh dengan kerja sama pakar-pakar Al-Quran dengan  Pakar  dalam  berbagai disiplin ilmu lain. []

0 komentar :

Poskan Komentar